Selasa, 31 Desember 2013

Rapat Koordinasi Antara PMI Kota Metro dengan Dinas/Instasi/Lembaga yang ada di Kota Metro


Dipenghujung akhir tahun 2013 tepatnya pada Hari Selasa 31 Desember 2013 Pukul 09.00 WIB, Palang Merah Indonesia Kota Metro melakukan rapat koordinasi kepada dinas/instansi/lembaga yang ada di Kota Metro dalam rangka untuk menyatukan persepsi program kerja di tahun 2014 yang akan datang.

Rapat ini bertujuan untuk "simbiosis mutualisme" antara Palang Merah Indonesia Kota Metro dengan dinas/instansi/lembaga yang ada di Kota Metro dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat formal ataupun informal baik itu dari pihak PMI ataupun dari dinas/instansi/lembaga terkait penanggulangan bencana pada tahun yang akan datang.

Sebuah perbincangan hangat nampak terlihat antar sesama pengurus maupun dinas/instansi/lembaga yang hadir pada pertemuan rapat tersebut dari Dinas Kesehatan, Komisi II DPRD Kota Metro, BPBD Kota Metro, hingga perwakilan dari kelurahan desa binaan yang ada di Kota Metro. Setyo Pramono, S.E selaku Wakil Ketua IV Bid. Penanggulangan Bencana PMR dan Relawan PMI Kota Metro mengatakan bahwa "Kita mempunyai banyak relawan-relawan yang tidak tercover selepas diklat atau pendidikan dan latihan di Kota Metro ini, bingung mau di arahkan kemana pasca diklat? sementara mungkin dinas/instansi/lembaga juga bingung dalam menyelenggarakan sebuah program kerja yang membutuhkan SDM banyak? nah, dari sini kita coba sinergikan antara PMI dengan dinas/program/instansi".

Dr. Silfia Naharani, MM. selaku Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Metro menuturkan bahwa "Dalam rangka kerjasama antara Dinas Kesehatan Kota Metro, PMI dituntut untuk mengajukan proposal dalam penyelenggaraan kerjasama kegiatan, serta pada PUSKESKEL yang ada di keluarahan-kelurahan se-Kota Metro membutuhkan tenaga-tenaga muda untuk membantu petugas yang ada di PUSKESKEL tersebut.

Untuk rencana selanjutnya, dari pihak PMI akan mencoba datang kepada dinas/instansi/lembaga untuk membicarakan masalah terkait penanggulangulan bencana dan masalah-masalah lain yang sekiranya dapat disinergikan antara PMI Kota Metro dengan dinas/lembaga/instansi di Kota Metro yang pada konteks tertulisnya akan tertuang dalam MoU.

Kamis, 26 Desember 2013

Workshop Sekolah Siaga Bencana SMAN 2 Kota Metro

Workshop Sekolah Siaga Bencana ini kerjasama antara SMAN 2 Metro sebagai salah satu komunitas program ICBBR dan Palang Merah Indonesia Kota Metro, yang disuport dana dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Peserta Workshop adalah siswa/siwi SMA/SMK/MA dan SMP/MTs se Kota Metro berjumlah 50 orang. Dalam upacara pembukaan dibuka oleh Bpk. Drs. H. Masnuni, M.Pd.I selaku Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kota  Metro yang juga menjabat Wakil Ketua Bidang PSD PMI Kota Metro. Hadir dalam pembukaan Kepala SMAN 2 Kota Metro Bpk. Drs. Hartanto, Wakil Ketua Bidang PMR Relawan dan Penanggulangan Bencana PMI Kota Metro, Setyo Pramono, SE, Pembina PMR serta dewan guru SMAN 2 Kota Metro.

Kegiatan ini bertujuan melatih dan mensosialisasikan Sekolah Siaga Bencana di Kota Metro, yang menjadi sasaran adalah siswa/siswi yang tergabung dalam Palang Merah Remaja. Dengan kegiatan ini diharpakan para anggota PMR, siswa dan siswi serta dewan guru mengerti tentang fungsi dan peran serta partisipasinya di sekolah  dalam rangka menghadapi, mencegah dan mengantisipasi bencana.

Pemateri berasal dari PMI Kota  Metro, terdiri dari unsur pengurus , staf dan KSR serta TSR PMI Kota Metro. dalam kegiatan ini juga memilih salah satu bencana yaitu kebakaran. para peserta diberi materi tentang penangan korban bencana dan cara pemadaman kebakaran.

Metro, 14 s.d 15 Desember 2013


Diklat Lapangan PMR Wira SMAN 04 Kota Metro Sekaligus Penutupan

Masih berkaitan dengan cuplikan Diklat Lapangan Palang Merah Remaja (PMR) di SMAN 04 Kota Metro yang pelaksanaanya pada tanggal 24 Desember 2013 silam dan baru saya posting pada tanggal 26 Desember 2013.

Diklat Lapangan PMR di SMAN 04 Kota Metro merupakan implementasi simulasi hasil dari teori setelah diklat ruangan usai. Harapan dari diklat lapangan ini ialah, agar para peserta didik agar dapat mengetahui sedikit gambaran tentang situasi kondisi di lapangan ketika bencana sedang berlangsung serta sebagai sarana untuk agar lebih dekatnya para  peserta  dengan alam sekitar.

Herwansyah (staf markas) selaku perwakilan dari Ketua PMI Kota Metro dalam acara penutupan kegiatan Diklat ini mengatakan,"Walaupun Diklat PMR Wira SMAN 04 Kota Metro ini masih kurang memenuhi standar kurikulum yang seharusnya 90 jam untuk tingkatan PMR Wira, namun agar dapat memenuhi kurikulun tersebut dalam beberapa latihan rutin untuk kedepannya serta dapat menggunakan ilmu yang didapat selama diklat ini berlangsung untuk membantu bagi yang membutuhkan".


Gambar di atas merupkan cuplikan dari foto-foto hasil kegiatan diklat lapangan yang di ambil pada tanggal 24 Desember 2014.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat. amin.



Senin, 23 Desember 2013

Komponen Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
Pada akhir perang dunia pertama sebagian besar daerah di Eropa sangat kacau, ekonomi rusak, populasi berkurang drastis karena epidemi, sejumlah besar pengungsi yang miskin dan orang yang tidak mempunyai kewarganegaraan memenuhi benua itu. Perang tersebut sangat jelas menunjukkan perlunya kerjasama yang kuat antara perhimpunan Palang Merah, yang karena aktivitasnya dalam masa perang dapat menarik ribuan sukarelawan. Henry P. Davison, Presiden Komite Perang Palang Merah Amerika, mengusulkan pada konferensi internasional medis (April 1919, Cannes, Perancis) ”untuk memfederasikan perhimpunan palang merah dari berbagai negara menjadi sebuah organisasi setara dengan liga bangsa-bangsa, dalam hal peperangan dunia untuk memperbaiki kesehatan, mencegah penyakit dan mengurangi penderitaan.”

Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah kemudian secara formal terbentuk dengan markas besarnya di Paris oleh Perhimpunan Palang Merah dari Perancis, Inggris, Itali, Jepang, Amerika Serikat pada tanggal 5 Mei 1919 dengan tujuan utama memperbaiki kesehatan pada negaranegara yang telah sangat menderita setelah perang. Liga itu juga bertujuan untuk 'memperkuat dan menyatukan aktivitas kesehatan yang sudah ada dalam Perhimpunan Palang Merah dan untuk mempromosikan pembentukan perhimpunan baru.' Bagian penting dari kerja Federasi adalah menyediakan dan mengkoordinasi bantuan bagi korban bencana alam dan epidemi. Sejak 1939 markas permanennya ada di Jenewa. Pada tahun 1991, keputusan diambil untuk merubah nama Liga Perhimpunan Palang Merah menjadi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau IFRC (International Federation of the Red Cross and Red Crescent Societis).

Selanjutnya, baik IFRC, ICRC dan Perhimpunan Nasional, merupakan bagian dari komponen Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau biasa disebut dengan ”Gerakan” saja. Komponen Gerakan dalam menjalankan tugasnya sesuai Prinsip Dasar dan mandat masing-masing sebagaimana yang disebut dalam Statuta Gerakan. 

International Committee of the Red Cross
Sebagai sebuah lembaga swasta dan mandiri, ICRC bertindak sebagai penengah yang netral antara dua negara yang berperang atau bermusuhan dalam konflik bersenjata Internasional, konflik bersenjata non-Internasional dan pada kasus-kasus kekerasan internasional. Selain itu, juga berusaha untuk menjamin bahwa korban kekerasan di atas, baik penduduk sipil maupun militer serta menerima perlindungan dan pertolongan.

Pada kasus-kasus konflik bersenjata Internasional maupun non-Internasional, aksi kemanusiaan ICRC didasarkan pada Konvensi dan protokol-protokolnya. Ini alasan mengapa kita mengatakan bahwa sebuah mandat khusus telah dipercayakan kepada ICRC oleh komunitas negara-negara peserta konvensi tersebut. Pada kasus-kasus kekerasan internal, ICRC bertindak berdasar pada hak inisiatif kemanusiaan seperti tercantum dalam statuta gerakan.

ICRC adalah pelindung prinsip-prinsip dasar gerakan dan pengambil keputusan atas pengakuan perhimpunan-perhimpunan nasional, dimana dengan itu mereka menjadi bagian resmi dari gerakan. ICRC bekerja untuk mengembangkan HPI, menjelaskan, mendiseminasikan dan mempromosikan Konvensi Jenewa. ICRC juga melaksanakan kewajiban yang ditimpakan padanya berdasarkan Konvensi-konvensi tersebut dan memastikan bahwa konvensi-konvensi itu dilaksanakan dan mengembangkannya apabila perlu.

Perhimpunan Nasional
Perhimpunan Nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah adalah organisasi kemanusiaan yang ada di setiap negara anggota penandatangan Konvensi Jenewa. Tidak ada negara yang dapat memiliki lebih dari satu Perhimpunan Nasional. Sebelum sebuah perhimpunan baru disetujui oleh ICRC dan menjadi anggota Federasi, beberapa syarat ketat harus dipenuhi. Menurut statuta gerakan Perhimpunan Nasional yang baru didirikan harus disetujui oleh ICRC. Untuk dapat memperoleh persetujuan dari ICRC, sebuah Perhimpunan Nasional harus memenuhi 10 syarat yaitu:
• Didirikan disuatu Negara Peserta Konvensi Jenewa 1949
• Satu-satunya Perhimpunan PM/BSM Nasional di Negaranya
• Diakui oleh Pemerintah Negaranya
• Memakai nama dan lambang Palang Merah atau Bulan Sabit Merah
• Bersifat mandiri
• Memperluas kegiatan di seluruh wilayah
• Terorganisir dalam menjalankan tugasnya dan dilaksanakan diseluruh wilayah negaranya
• Menerima anggota tanpa membedakan latar belakang
• Menyetujui statuta Gerakan
• Menghormati Prinsip-prinsip Dasar Gerakan dan menjalankan tugasnya sejalan dengan prinsip-prinsip HPI

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
Badan ini mendukung aktivitas kemanusiaan yang dilaksanakan oleh perhimpunan nasional atas nama kelompok-kelompok rentan dan bertindak sebagai juru bicara dan sebagai wakil Internasional mereka. Federasi mendukung Perhimpunan Nasional dan ICRC dalam usahanya untuk mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan tentang HPI dan mempromosikan Prinsip-prinsip Dasar Gerakan.

Statuta Gerakan
Statuta Gerakan adalah salah satu dasar yang menentukan struktur dan kewajiban ICRC, Federasi, dan Perhimpunan Nasional. Statuta Gerakan disusun pada tahun 1928. Kemudian direvisi pada tahun 1952 direvisi lagi pada tahun 1986, tepatnya pada Konferensi Internasional yang ke-25 yang dilaksanakan di Jenewa.

Statuta ICRC
ICRC menetapkan statutanya pada tahun 1915. Semenjak itu mereka sudah merevisinya beberapa kali. Khususnya, mereka berefleksi dan mengembangkan pokok-pokok pikiran dari pasal 5 Statuta Gerakan. Untuk lebih persisnya, sebagai tambahan atas apa yang sudah disebutkan di atas, statuta itu menyebutkan bahwa ICRC harus:
  • Melindungi dan mempromosikan penghormatan kepada prinsip-prinsip dasar gerakan, demikian juga dengan penyebarluasan pengetahuan HPI yang dapat dipakai dalam konflik bersenjata;
  • Mengakui semua Perhimpunan Nasional yang dibentuk berdasarkan persyaratan yang tercantum alam statuta gerakan;
  • Mengemban tugas yang diberikan oleh Konvensi Jenewa dan memastikan bahwa HPI dilaksanakan dangan setia.
  • Menyediakan perlindungan dan bantuan, dalam kapasitasanya sebagai penengah netral kepada militer dan korban sipil dari konflik bersenjata.· Mengelola, menjalankan Badan Pusat Pencarian;
  • Melaksanakan mandat yang dipercayakan kepadanya oleh Konferensi Internasional.

Statuta Federasi
Statuta Federasi memutuskan tanggung jawab Federasi sebagai berikut:
  • Bertindak sebagai badan penghubung dan koordinasi permanen dari Perhimpunan- Perhimpunan Nasional;
  • Memberikan bantuan kepada Perhimpunan Nasional yang mungkin memerlukan dan memintanya;
  • Mempromosikan pembentukan dan pengembangan Perhimpunan Nasional;
  • Mengkoordinasi operasi bantuan yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Nasional dalam rangka membantu korban bencana alam dan pengungsi di tempat di mana tidak ada konflik bersenjata.
Statuta Perhimpunan Nasional
Setiap Perhimpunan Nasional memiliki statuta sendiri-sendiri. Walaupun mungkin berbeda satu dengan yang lain, statuta itu harus mencerminkan semangat gerakan dan memperhatikan ketentuan-ketentuan umum dalam statuta gerakan. Harus diperhatikan bahwa seperangkat “model statuta” tersedia untuk digunalan oleh perhimpunan nasional. Tujuan untuk pembuatan model tersebut pada tahun 1952 tidak untuk digunakan sebagai satu-satunya peraturan bagi semua perhimpunan nasional tetapi untuk mewujudkan prinsip-prinsip konvensi dan gerakan, yang merupakan aplikasi universal. Model statuta ini sudah diubah sampai berkali-kali dan pantas untuk menjadi pedoman bagi perhimpunan nasional baru dalam membuat rancangan statutanya sendiri.

Referensi
  1. International Committee of the Red Cross, 1994, Handbook of the International Red Cross and Red Crescent Movement, ICRC, Geneva
  2. International Committee of the Red Cross, 1998, Mengenal Lebih Jauh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, ICRC, Geneva.
  3. Muin, Umar, 1999, Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sejarah Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional

Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional


Perang Solferino Pada tanggal 24 Juni 1859 di Solferino, sebuah kota kecil yang terletak di daratan rendah Propinsi Lambordi, sebelah utara Italia, berlangsung pertempuran sengit antara prajurit Perancis dan Austria. Pertempuran yang berlangsung sekitar 16 jam dan melibatkan 320.000 orang prajurit itu, menelan puluhan ribu korban tewas dan luka-luka. Sekitar 40 ribu orang meninggal dalam pertempuran.

Banyaknya prajurit yang menjadi korban, dimana pertempuran berlangsung antar kelompok yang saling berhadapan, memang merupakan karakteristik perang yang berlangsung pada jaman itu. Tak ubahnya seperti pembantaian massal yang menghabisi ribuan orang pada satu waktu. Terlebih lagi, komandan militer tidak memperhatikan kepentingan orang yang terluka untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan. Mereka hanya dianggap sebagai ‘makanan meriam’. Ribuan mayat tumpang tindih dengan mereka yang terluka tanpa pertolongan. Jumlah ahli bedah pun sangat tidak mencukupi. Saat itu, hanya ada empat orang dokter hewan yang merawat seribu kuda serta seorang dokter untuk seribu orang. Pertempuran tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh Perancis.

Akibat perang dengan pemandangannya yang sangat mengerikan itu, menggugah Henry Dunant, seorang pengusaha berkebangsaan Swiss (1828 – 1910) yang kebetulan lewat dalam perjalanannya untuk menemui Kaisar Napoleon III guna keperluan bisnis. Namun menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan akibat pertempuran, membuat kesedihannya muncul dan terlupa akan tujuannya bertemu dengan kaisar. Dia mengumpulkan orang-orang dari desa-desa sekitarnya, dan tinggal di sana selama tiga hari untuk dengan sungguh-sungguh menghabiskan waktunya untuk merawat orang yang terluka.

Ribuan orang yang terluka tanpa perawatan dan dibiarkan mati di tempat karena pelayanan medis yang tidak mencukupi jumlahnya dan tidak memadai dalam tugas/keterampilan, membuatnya sangat tergugah. Kata-kata bijaknya yang diungkapkan saat itu, Siamo tutti fratelli (Kita semua saudara), membuka hati para sukarelawan untuk melayani kawan maupun lawan tanpa membedakannya.

Komite Internasional
Sekembalinya Dunant ke Swiss, membuatnya terus dihantui oleh mimpi buruk yang disaksikannya di Solferino. Untuk menghilangkan bayangan buruk dalam pikirannya dan untuk menarik perhatian dunia akan kenyataan kejamnya perang, ditulisnya sebuah buku dan diterbitkannya dengan biaya sendiri pada bulan November 1862. Buku itu diberi judul “Kenangan dari Solferino” (Un Souvenir De Solferino).
Buku itu mengandung dua gagasan penting yaitu: 
  1. Perlunya mendirikan perhimpunan bantuan di setiap negara yang terdiri dari sukarelawan untuk merawat orang yang terluka pada waktu perang.
  2. Perlunya kesepakatan internasional guna melindungi prajurit yang terluka dalam medan perang dan orang-orang yang merawatnya serta memberikan status netral kepada mereka.
Selanjutnya Dunant mengirimkan buku itu kepada keluarga-keluarga terkemuka di Eropa dan juga para pemimpin militer, politikus, dermawan dan teman-temannya. Usaha itu segera membuahkan hasil yang tidak terduga. Dunant diundang kemana-mana dan dipuji dimana-mana. Banyak orang yang tertarik dengan ide Henry Dunant, termasuk Gustave Moynier, seorang pengacara dan juga ketua dari The Geneva Public Welfare Society (GPWS). Moynier pun mengajak Henry Dunant untuk mengemukakan idenya dalam pertemuan GPWS yang berlangsung pada 9 Februari 1863 di Jenewa. ternyata, 160 dari 180 orang anggota GPWS mendukung ide Dunant. Pada saat itu juga ditunjuklah empat orang anggota GPWS dan dibentuklah KOMITE LIMA untuk memperjuangkan terwujudnya ide Henry Dunant.
Mereka adalah :
  1. Gustave Moynier.
  2. dr. Louis Appia
  3. dr. Theodore Maunoir
  4. Jenderal Guillame-Hendri Dufour
Adapun Henry Dunant, walaupun bukan anggota GPWS, namun dalam komite tersebut ditunjuk menjadi sekretaris. Pada tanggal 17 Februari 1863, Komite Lima berganti nama menjadi Komite Tetap Internasional untuk Pertolongan Prajurit yang Terluka sekaligus mengangkat ketua baru yaitu jenderal Guillame – Henri Dufour.

Pada bulan Oktober 1863, Komite Tetap Internasional untuk Pertolongan Prajurit yang Terluka, atas bantuan Pemerintah Swiss, berhasil melangsungkan Konferensi Internasional pertama di Jenewa yang dihadiri perwakilan dari 16 negara (Austria, Baden, Beierem, Belanda, Heseen-Darmstadt, Inggris, Italia, Norwegia, Prusia, Perancis, Spanyol, Saksen, Swedia, Swiss, Hannover,dan Hutenberg). Beberapa Negara tersebut saat ini sudah menjadi Negara bagian dari Jerman.

Adapun hasil dari konferensi tersebut, adalah disepakatinya satu konvensi yang terdiri dari sepuluh pasal, beberapa diantaranya merupakan pasal krusial yaitu digantinya nama Komite Tetap Internasional untuk Menolong Prajurit yang Terluka menjadi KOMITE INTERNASIONAL PALANG MERAH atau ICRC (International Committee of the Red Cross) dan ditetapkannya tanda khusus bagi sukarelawan yang memberi pertolongan prajurit yang luka di medan pertempuran yaitu Palang Merah diatas dasar putih.

Pada akhir konferensi internasional 1863, gagasan pertama Dunant – untuk membentuk perhimpunan para sukarelawan di setiap negara pun menjadi kenyataan Beberapa perhimpunan serupa dibentuk beberapa bulan kemudian setelah konferensi internasional di Wurttemburg, Grand Duchy of Oldenburg, Belgia dan Prusia. Perhimpunan lain mengikuti seperti di Denmark, Perancis, Italy, Mecklenburgh-schwerin, Spain, Hamburg dan Hesse. Pada waktu itu mereka disebut sebagai Komite Nasional atau Perhimpunan Pertolongan.

Selanjutnya, dengan dukungan pemerintah Swiss kembali, diadakanlah Konferensi Diplomatik yang dilaksanakan di Jenewa pada tanggal 8 sampai 28 Augustus 1864. 16 negara dan empat institusi donor mengirimkan wakilnya. Sebagai bahan diskusi, sebuah rancangan konvensi disiapkan oleh Komite Internasional. Rancangan tersebut dinamakan “Konvensi Jenewa untuk memperbaiki kondisi tentara yang terluka di medan perang” dan disetujui pada tanggal 22 Agustus 1864. Lahirlah HPI modern. Konvensi itu mewujudkan ide Dunant yang kedua, yaitu untuk memperbaiki situasi prajurit yang terluka pada saat peperangan dan membuat negara-negara memberikan status netral pada prajurit yang terluka dan orang-orang yang merawatnya yaitu personil kesehatan.

Referensi:
  1. International Committee of the Red Cross, 1994, Handbook of the International Red Cross and Red Crescent Movement, ICRC, Geneva.
  2. International Committee of the Red Cross, 1998, Mengenal Lebih Jauh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, ICRC, Geneva.
  3. Muin, Umar, 1999, Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Diklat PMR Wira SMAN 04 Kota Metro

Pada tanggal 22 s.d 24 Desember 2013, Palang Merah Remaja (PMR) Wira SMAN 04 Kota Metro mengadakan Diklat (Pendidikan dan Latihan). Pendidikan dan Latihan ini adalah sebagai langkah awal sebagai siswa yang akan masuk kedalam ekstra kulikuler PMR Wira yang ada di SMAN 4 Kota Metro.

Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh Dinas Pendidikan Kota Metro, PMI Kota Metro, dan SMAN 04 Kota Metro itu sendiri. Dimana harapan oleh masing-masing Dinas terkait salah satunya adalah untuk mewujudkan setiap siswa agar tanggap terhadap bencana disekitarnya, baik itu bencana kecil berupa laka lantas ketika dijalan raya, maupun bencana besar yang tidak tau ntah kapan akan terjadi.

Kegiatan ini difasilitasi oleh PMI Kota Metro dengan menerjunkan para anggota-anggota KSR (Korp Suka Rela) yang sudah teruji dan handal tentunya dalam menangani sebuah bencana. Banyak dari mereka (anggota KSR) yang sudah ditugaskan baik itu dalam mengani bencana alam maupun ditugaskan untuk membantu Dinas-dinas ataupun lembaga yang sedang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tertentu.

Dari segi materi yang diberikanpun adalah materi-materi yang berbobot tentunya untuk menunjang keberhasilan dalam pendidikan dan latihan ini. Cuplikan dari materi-materi tersebut ialah: pertolongan pertama, perawatan keluarga, dapur umum, logistik, dan masih banyak lagi materi-materi yang pada dasarnya untuk membekali mereka ketika sudah terjun kedalam sebuah bencana.

Berikut merupakan dokumentasi hasil dari kegiatan Diklat PMR Wira SMAN 04 Kota Metro. Foto-foto ini di ambil pada tanggal 23 Desember 2013.